Vaksinasi: iya atau enggak

Jul 1, 2017 by

Tahukah kamu bahwa di bulan Agustus – September 2017 akan diadakan vaksinasi Measles – Rubella gratis untuk wilayah Pulau Jawa?

 

Measles dan Rubella aka Campak dan Campak Jerman merupakan penyakit serius yang bisa menyebabkan radang paru, radang otak dan bahkan kematian. Tapi yang lebih menyedihkan, apabila seorang ibu hamil terpapar Rubella pada trimester pertama kehamilannya maka bisa mengakibatkan cacat pada janin. Kecacatan pada janin bisa berupa kelainan jantung, mata, pengapuran otak dan keterlambatan perkembangan.

 

Kampanye vaksin MR ini ditujukan untuk anak usia 9 bulan sampai 15 tahun. Bulan Agustus 2017 akan diberikan di sekolah setingkat SD dan SMP. Kemudian dilanjutkan di bulan September 2017 di sarana pelayanan kesahatan untuk anak lainnya. Vaksinasi MR ini diberikan GRATIS tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Artinya, bila anak anda sudah divaksinasi MR (atau MMR) sebelumnya maka vaksin MR ini dapat diberikan lagi.

 

Saat ini tidak ada obat untuk campak dan rubella TAPI penyakit ini bisa dicegah melalui imunisasi. Apakah anak yang divaksin masih bisa tertular? Masih tapi dampaknya tidak separah anak yang belum divaksinasi. Saya mengalami sendiri bahwa Nathan terkena campak saat berusia 20 bulan. Untungnya karena Nathan pernah diimunisasi campak, dampaknya gak separah anak kenalan saya yang kena campak sebelum divaksin. Saat itu Nathan hanya bintik-bintik merah sedikit di bagian punggung yang kita kira alergi seafood.

 

Saat Nathan kena campak, saya sedang hamil Nadine. Saran pertama dokter adalah untuk saya berjauhan sementara waktu dengan Nathan. Hiks.. sedih dan bingung banget waktu itu karena Nathan masih belom weaning. Setelah baca sana-sini tentang bahaya rubella pada janin, saya akhirnya meneguhkan hati untuk menitipkan Nathan di rumah Omanya. Pikiran saya cuma 1… untuk mencegah kerepotan yang lebih besar di masa depan. Kalau (amit-amit) janin saya kena rubella dan cacat, kita akan lebih sedih dan repot kan.

 

Di masa-masa sepi karena ditinggal Nathan, saya banyak baca tentang MR. Tiba-tiba saya dapat pencerahan bahwa saya pernah diimunisasi MR sekitar tahun 2009. Ceritanya begini… waktu itu saya kerja part-time di childcare (tempat penitipan anak) dan suatu hari muka saya bintik-bintik merah. Pergilah saya ke klinik kampus. Percakapannya kira-kira begini:

saya: Sus, saya bintik-bintik merah di muka dan gatal nih

nurse: Oh, kamu ada alergi?

saya: Enggak sih setau saya

nurse: Kamu ada kerjaan part-time?

saya: Saya kerja di childcare 3 minggu sekali

nurse: Oh… mungkin kamu kena virus dari anak kecil. Anak kecil tuh paling banyak penyakitnya. Udah pernah vaksin?

saya: Dulu sih ya waktu kecil

nurse: Kalo gitu sekarang saya suntik aja ya.

saya: …. *gak ada kesempatan nanya lagi*

 

Okelah.. jadi waktu itu saya disuntik MR karena si suster takut saya ketularan rubella. Ternyata setelah beberapa hari saya baru sadar kalo saya alergi sabun muka Aesop yang baru saya coba. Sadarnya karena setelah bentol-bentol kan saya berenti pakai trus beberapa hari langsung sembuh. Positif banget waktu itu gak kena campak tapi alergi oil-oil natural yang ada di Aesop. Hikmahnya buat saya, ternyata bener di dunia ini gak ada yang kebetulan. Vaksin yang dulu mungkin ada manfaatnya buat saya.

 

Sebenernya juga, awalnya gak berniat banget nulis tentang cerita ini apalagi ikut teriak-teriak soal kampanye vaksin MR. Tapi ternyata masih banyak orang yang pinter (sekolah sampai sarjana kan berarti pinter) dan yang punya uang (bisa beli kendaraan kan berarti punya uang) yang males mikir soal vaksin ini.

 

Saya bukan tipe yang nanya orang “Kalian vaksin anak-anak gak?” atau “Anaknya bobo sendiri gak?” karena menurut kita itu urusan masing-masing orang lah. Whatever works for you. Tapi kalo ada orang yang nanya, itu berarti kan pengen ditanya juga ya.. Hehehe.

 

Yah alkisah hal ini beberapa kali terjadi dan ya ampun… gak ngerti lagi kalo ada orang yang bilang dia gak vaksin anaknya karena “kita bukan yang tipe vaksin gitu deh” atau “gak usahlah.. suka ribet antri-antrinya jadi males”. Maaf ya, menurut saya itu jawaban orang super males. Untuk jawaban model pertama, kesannya anti-mainstream parents nih yeee. Padahal kemungkinan besar yang ngomong gitu tumbuh sehat karena dulunya rajin dibawa vaksinasi sama orang tuanya. ¬†Untuk jawaban tipe kedua, tolong sadar kalau anda adalah pemalas. TITIK.

 

Udahlah gak mau panjang lebar sih tentang vaksin ini karena sebenernya pilihan untuk vaksinasi ya balik lagi ke orang tua. Hak anak adalah mendapatkan kesempatan untuk tumbuh sehat dan kuat yang terbaik… gimanapun versi orang tuanya.

 

Tapi untuk vaksin MR ini coba tolong dipikir-pikir lagi kalo gak rencana ngasih ke anaknya. Alasannya cuma 1: campak dan campak jerman bisa menular ke ibu hamil dan mengakibatkan si bayi cacat. Ibu hamil itu bisa mami, tante, mbak, suster di rumah sakit, guru sekolah minggu, guru ngaji, tetangga… jangan sampai keputusan anda untuk gak memvaksin anak mengambil kesempatan anak lain yang bahkan belum lahir.

Related Posts

Tags

Share This

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>