A week without Nathan

Jun 12, 2016 by

Hari ini, Minggu, 12 Juni adalah hari ke-6 kami berpisah dari Nathan. Nathan yang masih nempel mami setiap kali mau tidur malem (dan kadang tidur siang juga), Nathan yang hampir sama mami 24/7 sejak lahir… akhirnya harus dipisahkan juga.

 

banyak gaya deh sekarang...

banyak gaya deh sekarang…

 

Senin, 6 Juni siang kami ke dokter dan Nathan ternyata campak. Pesan dokter cuma 1: sebisa mungkin jangan deket maminya dulu karena takut ketularan dan kena ke janin. Kalau ibu hamil kena campak, terutama di awal kehamilan, bisa sangat berbahaya untuk janin. Bayi bisa memiliki gangguan pendengaran, penglihatan, jantung ataupun otak. Ah, sedih banget saat baca tentang ini.

 

Ini pertama kalinya saya merasa galau jadi seorang ibu dengan 2 anak. Di satu sisi, saya mau melindungi bayi yang belom lahir dari penyakit. Tapi saya sedih karena cara terbaik untuk melindungi bayi ini adalah dengan menjauhkan diri dari anak yang lain. Anak yang seumur hidupnya gak pernah terpisah lebih dari 7 jam. Setelah banyak berpikir, saya merasa bahwa yang terbaik adalah menitipkan Nathan ke orang tua di Jakarta. Pertimbangan saya hanya 1; jika terjadi sesuatu pada bayi ini maka kami akan kehilangan lebih banyak waktu bersama sebagai keluarga di masa depan. Maksudnya kalau bayi ini sakit dan harus dirawat khusus, akan susah bagi kami untuk bersama.

 

Mungkin sepertinya pikiran saya negatif sekali ya… yang jadi penghiburan saya adalah kenyataan bahwa suatu saat toh Nathan harus mandiri juga. Gak mungkin kan Nathan selamanya cari kenyamanan dari saya, walaupun saya menikmati banget down time saat lagi manja-manjaan. Jadi sejak hari Senin Nathan dengan terpaksa disapih. Akibatnya, dia nangis selama 1 jam karena gelisah gak bisa tidur walaupun ngantuk. Caranya saya mengoleskan sedikit minyak kayu putih dan dia nangis, “Pedessss.” Aduh patah hati banget melihat Nathan nangis. Bingung, sedih, ngantuk, semuanya campur jadi satu tangisan. Kami hanya berdoa supaya Nathan gak merasa tertolak.

 

Hari Selasa, Opa & Oma-nya Nathan datang ke Bandung dan kami memutuskan bahwa Nathan akan dibawa ke Jakarta. Selain waktu tidur, Nathan gak ada masalah tanpa mami. Tapi kalau udah ngantuk mulai deh dia nyanyi “mibo mibo”  (mimik bobo – mimik bobo). Bersyukur banget ada Opa & Oma yang siap siaga membantu kami ngelewatin ini. Thank you Pi Mi!

 

main stiker sama Oma

main stiker sama Oma

 

Setelah Nathan sembuh, weekend ini Nathan diboyong ke Solo. Ini juga pertama kalinya dia terbang tanpa orang tuanya. Jadi terbang duo sama mami udah pernah, terbang tanpa ortu udah pernah, hanya kurang terbang berdua sama papi. Hahaha.

 

first flight without parents

flying duo with Oma – first flight without parents

 

Ah, kami kangen sekali sama Nathan. Rasanya ganjil gak ada yang gangguin saat saya duduk di sofa. Gak ada alarm yang bangunin dan gak ada yang panggil “mami mami”. Tapi dengan jujur kami menikmati juga saat berdua ini. Kami pergi ke restoran yang agak susah kalau ajak Nathan, nonton bioskop dan menyelesaikan hal-hal lain yang agak repot kalau ada Nathan. Contohnya membereskan album foto. Saya juga creambath dan facial tanpa kepikiran buru-buru pulang. Tapi ya begitu deh, setiap sampai rumah berasa sepi banget karena gak ada Nathan.

 

beresin foto Nathan selama hampir 2 tahun

beresin foto Nathan selama hampir 2 tahun

 

Terima kasih teknologi karena rasa kangen bisa terobati dengan video call. Gak sabar ketemu Nathan secara langsung besok. Semoga Nathan sudah belajar untuk lebih independen dan bisa mempertahankannya. Jangan sampai dia ngomong “mibo mibo” lagi saat kita bertemu besok.

 

main di rumah Oma-co

main di rumah Oma-co

 

Pertanyaannya, apakah saya menyesal menyusui Nathan sampai 21 bulan sehingga proses menyapihnya jadi drama? Dengan yakin saya jawab TIDAK dan dengan kasih Tuhan semoga anak kedua nanti saya bisa menyusui dengan lancar lagi. Pasti ada saatnya saya merasa capek dan berharap Nathan berhenti nyusu tapi prinsip saya, selama kami berdua merasa nyaman yasudah. Saya lega dan berharap kalo proses menyapih ini berhasil. Sedih karena harus berakhir karena terpaksa tapi akan lebih sedih kalo harus ada 2x seperti ini.

 

Terima kasih juga buat semua yang sudah berdoa untuk kesembuhan Nathan, kesehatan saya dan bayi no. 2. Tuhan memberkati!

 

Related Posts

Tags

Share This

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>